Wall Street Melonjak Usai Data Inflasi AS Dirilis

Posted on

Bursa Efek Amerika

Bursa Efek Amerika di Wall Street. (Foto: Wikimedia Commons)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street melonjak di tengah rilis data inflasi pada penutupan perdagangan Rabu (14/2). Investor dinilai mengabaikan data inflasi yang menguat.

Indeks saham Dow Jones (DJI) naik 254,38 poin atau 1,03% ke posisi 24.893,83. Indeks saham S&P 500 (SPX) menguat 35,72 poin atau 1,34% ke posisi 2.698,65. Indeks saham Nasdaq (IXIC) bertambah 130,11 poin atau 1,86% ke posisi 7.143,62.

Penguatan Wall Street ini didorong saham Facebook, Amazon, dan Apple. Saham Facebook melonjak 3%, sedangkan saham Amazon.com dan Apple naik lebih dari 1%. Kenaikan ketiga saham tersebut membuat indeks saham S&P 500 lebih besar menguat ketimbang indeks saham utama lainnya.

"Pelaku pasar merasa saham tersebut bertahan selama kemerosotan, dan bisa kembali kepada saham tersebut. Namun masih ada kekhawatiran," ujar Thomas Martin, Manajer Senior Portofolio Globalt Investments seperti dilansir Reuters, Kamis (15/2).

Selain itu, penguatan Wall Street juga karena adanya rilis data inflasi. Pemerintah AS mengumumkan indeks harga konsumen kecuali komponen makanan dan energi yang bergejolak naik 0,3% pada Januari. Angka ini lebih tinggi dari hasil survei Reuters yaitu 0,2%, namun secara year on year (yoy) tetap 1,8%.

Data ekonomi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi. Selain itu menghidupkan kembali kekhawatiran bank sentral AS atau the Federal Reserve untuk agresif menaikkan suku bunga.

Namun, kekhawatiran inflasi juga dipicu dari data yang menunjukkan penjualan ritel AS turun 0,3% pada Januari. Angka itu alami penurunan terbesar dalam hampir satu tahun.

"Indeks harga konsumen menunjukkan ada inflasi namun tidak tinggi. Orang menjadi pesimistis," ujar Bruce Bittles, Chief Investment Strategist Robert W.Baird an Co.

Meski demikian, investor percaya ekonomi AS tetap kuat. Pemerintah yang akan berlakukan pemotongan pajak akan memacu pendapatan perusahaan dan mendorong konsumen belanja lebih besar.

Imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi 2,8894%. Namun ukuran terhadap kecemasan investor turun dalam jangka pendek. Angka ini berbeda dengan reaksi investor terhadap data lapangan kerja dan upah menguat di AS pada awal Januari 2018.

Adapun 10 dari 11 sektor saham S&P 500 menguat dengan sektor saham keuangan dan teknologi informasi naik lebih dari 3,6%. Saham Fossil naik 60% usai melaporkan kinerja kuartalan yang kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *