Uber Diretas oleh Hacker Muda 20 Tahun?

Posted on

Kantor Uber di Queens, New York.

Kantor Uber di Queens, New York. (Foto: Brendan McDermid/Reuters)

21 November lalu, sebuah fakta besar terungkap ketika Uber mengakui pernah mengalami peretasan yang mengakibatkan 57 juta data akun pengguna dan pengemudi dicuri hacker. Uber kemudian diketahui menyembunyikan kasus peretasan yang terjadi pada Oktober 2016 tersebut dan baru mengungkapnya tahun ini.

Uber memutuskan untuk membayar si hacker sebesar 100 ribu dolar AS atau setara Rp 1,3 miliar agar informasi yang bocor itu dihancurkan dan tidak diekspos ke publik. Meski akhirnya kasus ini diungkap juga oleh Uber, masih ada misteri yang tersisa seputar siapa sosok yang meretas atau bagaimana perusahaan membayarnya.

Dilansir Reuters, meski masih belum diketahui namanya, hacker yang bertanggung jawab atas aksi peretasan ini adalah seorang pria berusia 20 tahun asal Florida, AS. Menurut sumber terpercaya yang berbicara kepada Reuters, Uber melakukan pembayaran untuk mengonfirmasi identitas hacker itu dan membuat kesepakatan untuk mencegah masalah ini tersebar luas.

Sumber itu mengatakan si hacker tinggal bersama ibunya di rumah berukuran kecil dan ia membantu untuk membayar tagihan sehari-hari. Hal ini ia sebut menjadi alasan Uber tidak mau melaporkan hacker tersebut karena dianggap tidak menunjukkan ancaman lebih jauh.

Selain itu dijelaskan juga bahwa Uber membayar si hacker muda itu dengan cara yang sama seperti para bug hunters yang bekerja mencari celah-celah yang terdapat dalam software perusahaan. Pembayaran ini dilakukan melalui perusahaan HackerOne yang juga menjadi penghubung antara para peneliti keamanan siber dengan Uber.

Setelah terungkapnya masalah ini, CEO Uber yang baru, Dara Khosrowshahi, memecat Chief Security Officer Joe Sullivan bersama bawahannya dikarenakan telah menyumbunyikan kasus peretasan itu.

CEO Uber, Dara Khosrowshahi

CEO Uber, Dara Khosrowshahi. (Foto: Adriano Machado/Reuters)

Sebelumnya, Uber mengungkpkan hacker itu telah mencuri data-data seperti nama, alamat email, hingga plat nomor dari para driver dengan cara mencuri password dari database cloud milik Amazon Web Services.

Kini jaksa agung kota New York telah memulai investigasi atas kasus peretasan itu, sementara jaksa agung New Mexico telah mengirimkan surat pada Uber untuk menanyakan penjelasan lengkap atas kejadian tersebut dan bagaimana Uber menyikapinya.

Tidak hanya itu, pihak berwenang Connecticut, Illinois, dan Massachusetts juga turut menyelidiki kasus peretasan tersebut. Dengan begitu, Uber juga telah melanggar kesepakatan dengan Federal Trade Commission karena tidak memberitahukan masalah ini kepada para pengguna sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *