Tren Calon Tunggal dan Calon dari TNI/Polri Mencuat di Pilkada 2018

Posted on

Diskusi Polemik Warung Daun

Diskusi Polemik Warung Daun. (Foto: Kevin S Kurnianto/kumparan)

Pilkada 2018 lebih berwarna dari Pilkada serentak 2017. Ketua KPU Arif Budiman menyebut ada beberapa hal yang mengalami tren kenaikan di Pilkada 2018 ini.

"Tren kenaikan calon tunggal, kedua, tren jumlah Paslon perempua itu juga naik. Kemudian, jumlah TNI Polri aktif yang mencalonkan. Dulu ada tapi biasanya purnawirawan," kata Arif dalam diskusi Radio Sindo Trijaya di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (13/1).

13 Daerah dengan calon tunggal itu yakni:

1. Kabupaten Lebak, Banten (Pilbup)

2. Kota Prabumulih, Sumsel (Pilwalkot)

3. Kota Tangerang, (Pilwalkot)

4. Kabupaten Tangerang, Banten (Pilbup)

5. Kabupaten Pasuruan, Jatim (Pilbup)

6. Kabupaten Enrekang, Sulsel (Pilbub)

7. Kabupaten Karanganyar, Jateng (Pilbup)

8. Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut (Pilbup)

9. Kabupaten Tapin, Kalsel (Pilbup)

10. Kabuaten Mamasa, Sulbar (Pilbup)

11. Kabupaten Puncak, Papua (Pilbup)

12. Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumut (Pilbup)

13. Kabupaten Jayawijaya, Papua (Pilbup)

Sementara untuk calon perempuan antara lain ada di Pilgub Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pilgub Jateng ada Ida Fauziyah, lalu juga ada Cabup Purwakarta.

Sedang untuk calon TNI dan Polri antara lain, Edy Rahmayadi yang kemudian pensiun dini dari TNI, ada Irjen Safaruddin yang pernah jadi Kapolda Kaltim, dan Irjan Anton Charliyan yang pernah menjadi Kapolda Jabar.

Bagaimana dengan dinasti politik?

"Jumlahnya belum didetilkan," tambah dia.

Untuk calon tunggal, sesuai putusan MK, apabila hingga batas waktu perpanjangn belum ada, tetap bisa dilaksanakan.

"KPU diperintahkan Mahkamah Konstitusi bersungguh-sungguh menghadirkan lebih dari 1 calon. KPU melakukan perpanjangan pendaftaran, agar calon baru bisa dimasukkan," jelasnya.

KPU juga melakukan langkah antisipasi terkait pelaksanaan Pilkada 2018, salah satunya pelajaran dari DKI.

"Tentu di setiap daerah ada catatan kekurangan. Coba kita refer ke Pilkada DKI tahun kemarin dan 5 tahun sebelumnya. Kompetisi sangat ketat semua cara digunakan termasuk cara yang tak sepatutnya digunakan. Ada pelajaran juga, sekalipun berlangsung sengit tapi KPU menetapkan hasil, masing-masing calon menerima semua. Begitu kompetisi selsai semua bersalaman dan mendukung. Itu ada pelajaran yang ditularkan ke daerah lain. Hal baik ini harus kita infokan supaya masyarakat bisa meniru yang baik," tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *