Perjalanan Panjang Indra Sjafri: Dari Tukang Pos Kini Jadi CEO

Posted on

Indra Sjafri

Indra Sjafri ketika bertemu dengan Jokowi. (Foto: Istimewa)

Seorang pedagang bernama Anwar Ongga berserta istri, Sjamsinur, akan selalu mengingat 2 Februari 1963 sebagai hari yang besar. Ya, saat itu, anak pertama mereka yang diberi nama Indra Syafri Anwar–yang belakangan diubah menjadi Indra Sjafri–lahir di Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Indra kecil memiliki kegemaran yang unik saat itu yakni mengantarkan makanan kepada tetangga dan ikut kegiatan kerja bakti di lingkungan tempat tinggalnya. Dua hal sederhana yang selalu menghadirkan kebahagiaan. Selain itu, dari dua kegiatan itu, Indra pun belajar banyak hal tentang gotong royong, musyawarah dan kebersamaan untuk berbagi.

Namun, selain dua kegiatan tersebut, Indra sangat senang bermain sepak bola. Untuk menuntaskan hasratnya itu, Indra bersama teman sebayanya memilih tanah kosong untuk menggelar pertandingan. Wajar saja, lapangan sepak bola beralas rumput tak ada di tempat Indra tinggal. Dan, dari atas tanah kosong itu, Indra mulai memupuk rasa cintanya kepada sepak bola.

Memasuki Sekolah Menengah Pertama, Indra terus mengasah skill olah bola. Keinginan yang disertai kerja keras itu akhirnya berbuah manis ketika Indra duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemampuan Indra menggiring si kulit bundar diketahui PSP Padang. Oleh karenanya, Indra bergabung dengan PSP Padang Junior dan mulai menemukan hal baru dalam sepak bola.

Usai menamatkan pendidikan di SMA, Indra melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Dengan status barunya itu, Indra tetap merupakan penggawa PSP Padang Junior. Di saat keputusan Indra untuk menekuni dua status yang berbeda, mahasiswa dan pemain PSP Padang Junior, ia juga mendapat tawaran untuk mengikuti seleksi masuk PT Pos Indonesia.

Tepatnya pada 1985, Indra beserta 14 temannya di PSP Padang Junior mengikuti seleksi itu. Dari 15 orang yang mengikuti seleksi hanya Indra dan Idris –rekan setim di PSP Padang– yang diterima kerja di PT Pos. Karena keberhasilan tersebut, Indra harus menuntaskan tiga tugas besar sekaligus, sebagai pesepakbola, karyawan dan mahasiswa.

Kerja kerasnya pun berbuah manis. Delapan tahun berselang, pada 1993, Indra naik jabatan menjadi Kepala Kantor Cabang Bandara Padang. Di tahun yang sama, Indra menikah dengan Temi Indrayani. Sejak itu, karier Indra di dunia sepak bola tak lagi berpendar.

Puluhan tahun berselang, pada medio 2007, Indra yang tertarik dengan dunia kepelatihan, memutuskan untuk kembali berkarier di kancah sepak bola. Pada tahun yang sama, Indra ditunjuk menjadi instruktur pelatih di lingkaran Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Hanya butuh dua tahun baginya untuk terus mengasah kemampuannya dalam hal mencari bakat pemain muda.


Coach Indra Sjafri

Coach Indra Sjafri. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)

Pada 2009, Indra pun ditunjuk menjadi pencari bakat PSSI. Lagi-lagi, Indra hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk melangkah ke jenjang karier selanjutnya. Pada 2011, Indra didapuk menjadi pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-16. Tetapi, di tahun pertamanya melatih, Indra dibekap kegagalan.

Saat itu, Timnas U-16 gagal melaju ke putaran final Piala Asia 2012 usai dikalahkan Australia dengan skor telak 2-5 di laga terakhir babak kualifikasi grup G yang dihelat di Stadion Rajamangala, Thailand. Kegagalan inilah yang kemudian memantik Indra untuk mulai melakukan pencarian pemain bertalenta ke daerah-daerah. Selain itu, tak adanya kompetisi berjenjang seakan memaksa Indra untuk melakukan blusukan.

Memang, rencana Indra ini sempat diremehkan beberapa pihak. Tetapi, setahun kemudian, Indra berhasil mengantarkan Timnas U-17 dan U-19 menjuarai Hong Kong Football Association (HKFA) International Youth Invitational Tournament. Karena keberhasilan itu, tangan dingin Indra mulai diakui. Dan pada 2013, Indra memulai perjalanan baru sebagai pelatih Timnas U-19.

Berbekal keyakinan bahwa kekuatan sepak bola Indonesia tak terpusat di kota-kota besar saja dan fasilitas yang ada di daerah-daerah lebih bersahabat bagi pemain muda untuk mengembangkan bakat, Indra bersama 13 staff-nya mulai mencari pemain ke pelosok dengan memasang standar Asia dan Dunia.

Setelah mengantongi 68 pemain untuk mengikuti pelatnas, Indra di hadapkan pada masalah besar. Badan Tim Nasional PSSI membatalkan pelatnas yang sudah direncanakan. Alhasil, Indra kembali berburu pemain muda yang dapat memenuhi ekspektasinya. Mulai dari memantau pemain yang mengikuti kompetisi HKFA Intertional Youth Football Invitation Tournament hingga memilih pemain SAD (Sociedad Anonima Deportiva).


Usai melakukan pencarian yang panjang dan melelahkan. Akhirnya terbentuk komposisi pemain Timnas U-19 yang kemudian berhasil mempersembahkan trofi Piala AFF U-19 untuk pertama kalinya dan gelar pertama sejak 22 tahun silam. Sejak itu, nama Indra akrab di telinga pecinta sepak bola Tanah Air.

Keberhasilan Indra tak berhenti sampai situ. Timnas U-19 yang diarsitekinya berhasil lolos ke putaran final Piala Asia 2014 di Myanmar. Asa untuk berlaga di Piala Dunia U-20 di New Zealand 2015 terus berpendar.

Sayang, di saat harapan yang begitu tinggi disematkan kepada Indra dan anak asuhnya, Evan Dimas dan kolega gagal menembus empat besar di babak Piala Asia. Langkah Indra sebagai pelatih Timnas U-19 pun terhenti.

Capaian yang apik bersama Timnas U-19 menjadi modal bagi Indra untuk mencari pelabuhan baru. Saat itu, Bali United kepincut untuk menggunakan jasanya. Namun, bersama 'Serdadu Tridatu' Indra tak dapat berbicara banyak, khususnya pada musim 2016.

Berlaga di Indonesia Soccer Championship (ISC), Indra hanya mampu membawa 'Serdadu Tridatu' finis diperingkat ke-12 dengan catatan 10 kemenangan, 10 imbang dan 14 kali kalah. Tapi, Bali United kepalang memercayai Indra sebagai nahkoda dan mendapat kontrak hingga 2020.


Indra Sjafri

Indra Sjafri bersama Edy Rahmayadi. (Foto: Istimewa)

Ketika sedang mempersiapkan tim menatap musim anyar, Liga 1 2017, Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, meminta agar Indra kembali menjadi juru taktik Timnas U-19. Untuk itu, Indra memutuskan blusukan untuk mencari skuat. Namun, metode yang digunakan berbeda dengan 2013. Waktu yang lebih singkat disinyalir menjadi penyebabnya.

Pencarian Indra diawali dengan menyeleksi pemain di empat kota besar: Pekanbaru, Jakarta, Surbaya, dan Makassar. Pemain yang diseleksi Indra lebih dulu dijaring oleh Asosiasi Provinsi se-Indonesia. Indra hanya sesekali saja melakukan blusukan ke beberapa daerah.

Pencarian Indra kali ini berjalan sebanyak enam tahap. Pada tahap terakhir, Indra menyeleksi pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri. Kendati waktu pencarian lebih sedikit, Indra lagi-lagi menemukan pemain muda berbakat macam Egy Maulana Vikri, M. Rafly dan M. Lutfhi.

Egy dan kolega diharapkan dapat mengukir prestasi dengan menjuarai Piala AFF U-19 di Myanmar. Harapan itu sempat memuncak manakala Timnas U-19 berhasil menunjukan kualitasnya dengan mengoleksi 9 poin, 19 gol, dan hanya 5 kali kebobolan di fase grup. Torehan ini lebih baik dari Timnas U-19 yang dikomandoi Evan Dimas beberapa waktu silam.

Kendati demikian, seketika harapan itu runtuh akibat menelan kekalahan dari Thailand di babak semifinal melalu adu tendangan penalti. Kekalahan membuat beban Indra semakin berat ketika melakoni Pra-Piala Asia U-18 2018 yang berlangsung di Paju, Korea Selatan.


Timnas Indonesia U19

Timnas Indonesia U19 (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Indonesia sejatinya tak perlu ikut serta dalam ajang tersebut menyusul kepastian sebagai tuan rumah. Akan tetapi, Indra tetap ingin mengikuti ajang itu sebagai bagian dari persiapan timnya.

Di dua laga awal, skuat asuhan Indra sukses mengemas poin sempurna dan 10 gol. Saat mempermak Brunei Darussalam dan Timor Leste masing-masing dengan skor 5-0. Namun, di dua laga sisa, Timnas U-19 menelan pil pahit usai ditaklukan Korea Selatan 0-4 dan Malaysia 1-4. Akibat dua kekalahan ini, Selasa (21/11), Indra benar-benar harus mundur dari jabatannya.

Sudah dua kali Indra dipecat oleh PSSI. Tetapi, tak ada kata menyerah dalam kamusnya. Kehilangan posisi sebagai pelatih skuat 'Garuda Nusantara' jutsru semakin membuat sayap Indra mengepak lebih lebar.

Dalam dua bulan belakangan ini, Indra terlihat kerap menghabiskan waktu bersama Ustaz Yusuf Mansur. Keakraban mereka terlihat dari berbagai postingan di akun media sosial Indra.

Semakin hari, hubungan Indra dengan Yusuf Mansur semakin membuat banyak pihak penasaran. Rumor pun berseliweran yang mengaitkan keduanya dengan Persika Karawang.


Namun, kabar itu mentah dengan sendirinya sampai akhirnya Indra dan Yusuf Mansur mendeklarasikan 'Persikota Reborn'. Ya, Indra dan Yusuf telah resmi mengakuisisi klub Liga 3 Persikota Tangerang.

Tak hanya itu, Indra dan Yusuf Mansur pun berkolaborasi mendirikan sebuah holding company yang akan memayungi berbagai unit usaha yang bergerak di bidang sepak bola. Pada Kamis (14/2), keduanya akan melakukan peresmian induk perusahaannya tersebut.

Berbekal pengalaman dan perjalanan panjang yang telah dilalui, Indra didapuk sebagai CEO, sementara Yusuf Mansur bertindak sebagai Komisaris Utama.

Ya, itulah Indra Sjafri. Jika ada ungkapan, kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil, maka itu tepat untuk menggambarkan perjalanan karier Indra selama ini. Selamat, coach.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *