Mencari Jarak Umur Ideal Sepasang Kekasih

Posted on

COVER BALIKAN

ilustrasi kekasih (Foto: thinkstock)

“Jika saya 20 tahun lebih tua dari istri saya, tak akan ada satupun yang berpikir kami tak bisa sah bersama,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron kepada Le Parisien, seperti dilansir Independent.

“Tapi karena sebaliknya–dia yang lebih tua 20 tahun dari saya, maka banyak orang mengatakan hubungan ini tak akan bertahan lama,” lanjut Macron.

Perbedaan umur kerap menjadi salah satu pertanyaan yang dilontarkan pada sepasang kekasih. Bak ahli nujum, banyak orang akan segera menduga kelanggengan hubungan berdasarkan perbedaan umur antara si perempuan dan lelaki.

Formula umur yang “mujarab” demi keawetan hubungan pun dikeluarkan. Seperti perhitungan “setengah umur ditambah tujuh”, misalnya. Jadi, katanya, mereka yang berumur 22 tahun akan langgeng berpasangan dengan ia yang berumur (22:2) + 7= 18 tahun.

Ilustrasi Memori Mantan Pacar

Ilustrasi memori pacaran. (Foto: Alex Bertha/unsplash)

Sementara, katanya lagi, tidaklah “aman” bagi seorang berumur 38 tahun untuk berpasangan dengan ia yang berumur 23 tahun. Menuruti “kaidah”, seorang berumur 38 tahun sebaiknya berpasangan dengan yang sudah berusia 26 tahun.

Namun, tak semua orang percaya pada formula tersebut. Alih-alih harus menurutinya, Christian Rudder, co-founder situs kencan AS OKCupid, melansir temuannya yang menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki pemikiran berbeda kala berbicara tentang perbedaan umur dalam sebuah hubungan.

Rudder menemukan, perempuan yang bergabung di situs kencan garapannya cenderung mencari pasangan yang seusia atau hanya 1-2 tahun lebih tua. Sementara laki-laki cenderung mencari pasangan di awal usia 20-an–terlepas dari berapapun umur lelaki itu.

Jadi, perempuan cenderung mencari pasangan dengan jarak umur yang tak begitu jauh, sedangkan laki-laki cenderung terpikat dengan pasangan yang muda dan memiliki perbedaan usia jauh.

Soumaya Keynes dalam kolom The Economist menuturkan, ada berbagai alasan yang mendasari preferensi perbedaan umur dalam memilih pasangan, seperti misal adanya kesamaan pengalaman masa kecil (mungkin semacam memori lagu-lagu kartun yang pernah berjaya di masa kecil keduanya) hingga kesenangan menabung bersama dengan menggabungkan perayaan ulang tahun keduanya.

Mencium aroma pasangan menurunkan stress

Mencium aroma pasangan menurunkan stress (Foto: Pixabay)

“Kemampuan sepasang kekasih untuk sama-sama menyanyikan lagu kartun masa kecil dapat menjadi salah satu cara untuk saling mendekatkan diri,” tulis Keynes.

Berbicara mengenai jauh-dekat jarak usia dalam pasangan, The Atlantic pada 2014 mengklaim, pasangan dengan perbedaan usia lima tahun cenderung 18 persen lebih rentan bercerai dibandingkan pasangan yang berusia sama atau dengan rentang usia tak terpaut jauh.

Angka kemungkinan perceraian itu naik menjadi 39 persen untuk pasangan dengan rentang usia 10 tahun, dan 95 persen bagi mereka yang memiliki beda usia 20 tahun.

Sementara pada pasangan dengan beda usia yang begitu jauh, ditemukan beberapa implikasi bahwa umur tua bisa saja memengaruhi hubungan. Pada sebagian orang, pertimbangan beda usia yang jauh didasarkan pada kemampuan pihak yang lebih muda untuk merawat pasangannya yang berusia lebih tua.

Dan bagi mereka yang memilih pasangan dengan rentang usia dekat, bisa jadi mempertimbangkan alasan harapan hidup yang lebih lama–menghindari kemungkinan menjadi janda atau duda dalam waktu dekat.

Peneliti University of Stockholm, Sven Drefahl, menyatakan bahwa laki-laki berusia 50 tahun ke atas yang berpasangan dengan perempuan jauh lebih muda darinya, memiliki angka harapan hidup lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berpasangan dengan perempuan yang berusia sama dengannya.

Kemampuan untuk bertahan hidup pun lebih kecil bagi pasangan yang berusia sama.

Namun, premis tersebut tentu tak serta-merta berlaku universal. Berbagai konteks–mulai dari gaya hidup, pekerjaan, hingga karakter masing-masing, dapat memengaruhi keawetan sebuah hubungan.

Ilustrasi pasangan kekasih

Ilustrasi pasangan kekasih (Foto: thinkstock)

Terlepas dari usia tua, laki-laki yang secara rutin berolahraga cenderung memiliki harapan hidup lebih tinggi dibandingkan lelaki yang tak rutin berolahraga, entah ia berpasangan dengan yang lebih muda maupun berusia sama, misalnya.

Namun, Drefahl menemukan hal berbeda pada perempuan. Dalam kajiannya, Drefahl melihat kecenderungan bahwa semakin tua usia perempuan, maka semakin buruk kemampuan bertahan hidup yang ia miliki.

“Semakin besar kesenjangan usia, semakin buruk peluang perempuan bertahan hidup, terlepas dari apakah mereka lebih muda atau lebih tua dari pasangannya,” tulis Drefahl.

Pada akhirnya, kecenderungan yang muncul pun berpusar pada premis “perempuan akan mencari pasangan yang berusia tak jauh darinya, sementara laki-laki cenderung mencari pasangan yang jauh lebih muda darinya.”

Walau begitu, tak pernah ada hitungan baku tentang rentang usia yang paling baik untuk berpasangan. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing–baik berpasangan dengan yang lebih muda atau lebih tua, dan berhak mengabaikan angka-angka riset yang berseliweran itu.

Seperti kata Bella Swan pada Edward Cullen dalam film Twilight, “Cinta tak kenal usia.” Betul?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *