Kisah Fuman Terjang Salju Berujung Donasi untuk Anak Miskin di China

Posted on

Wang Fuman dalam kondisi hampir beku

Wang Fuman dalam kondisi hampir beku. (Foto: Twitter @puijinta)

Wang Fuman (8), seorang siswa sekolah dasar di China yang ke sekolah dalam kondisi hampir beku kini dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya akibat berita perjuangan bocah tersebut, masyarakat mengumpulkan donasi untuk anak-anak seperti Fuman.

Sumbangan uang tunai sejauh ini mencapai lebih dari 17 juta Yuan atau sekitar Rp 35 miliar. Donasi itu akan diberikan kepada anak-anak di 9 kota di Provinsi Yunnan.

Kondisi bocah berusia 8 tahun ini sempat memicu perdebatan mengenai kemiskinan di China. Sekolahnya yang berada di Shaoton, Provinsi Yunnan, China juga turut menjadi terkenal semenjak foto Fuman dengan pipi yang kemerahan dan rambut putih berlapis es beredar di internet.

Donasi sebesar 100 ribu Yuan atau sekitar Rp 206 juta juga telah diterima sekolahnya, Sekolah Dasar Zhuanshanbao. Uang itu akan dipakai untuk renovasi sekolah atau paling tidak dipasangi penghangat ruangan. Uang tersebut akan dibagi kepada 81 siswa dengan masing-masing mendapat 500 Yuan atau sekitar Rp 1 juta.

Fuman mengatakan bahwa hari saat dia 'membeku' itu adalah hari pertama ujian akhir dan suhu turun terlalu cepat dalam waktu setengah jam saat dirinya sedang dalam perjalanan ke sekolah.

Tangan dan kaki siswa kelas 3 SD ini membengkak dua kali lipat ukurannya karena harus menerjang udara bersuhu 9 derajat celcius menuju sekolahnya sejauh 4,5 kilometer (km) dari rumahnya.

Banyak netizen yang bersimpati terhadap apa yang dialami Fuman. Mereka yakin perjuangan bocah berusia delapan tahun tidak akan sia-sia. Pemerintah daerah bersama dengan relawan mendatangi Sekolah Dasar Zhuanshanbao dan memberikan subsidi musim dingin pertama kepada 81 siswa di sana.

Fuman adalah "anak tertinggal", istilah ini digunakan di China untuk menggambarkan anak-anak dari keluarga miskin yang orangtuanya bekerja di kota-kota jauh dari kampung halamannya.

Fuman yang tinggal bersama nenek dan kakaknya ini berjanji tidak akan meninggalkan desanya, Fuman juga mempunyai mimpi bisa pergi ke Beijing untuk mewujudkan mimpinya sebagai polisi.

"Saya ingin melihat bagaimana murid belajar di sana. Ambisiku ke sana juga untuk menjadi petugas polisi, karena polisi bisa menangkap orang jahat," kata Fuman.

Nenek Fuman, Yao Zhaozhi mengatakan kepada situs berita di China bahwa keluarganya sering makan sayuran dibandingkan daging, ia tak mampu membelinya karena harga daging terlalu mahal. Mereka juga membakar kayu di rumah sebagai penghangat.

Banyak netizen di China menyatakan simpati atas kesulitan yang dihadapi Fuman dan keluarganya. Para netizen menawarkan untuk menyumbangkan pakaian musim dingin untuknya.

Kini pemerintah di Yunnan sedang menjalankan sebuah program untuk memberi pakaian musim dingin kepada Fuman dan anak-anak lain di daerah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *