Ketika Menjadi 'Garuda' Dirundung dari Segala Penjuru

Posted on

Uji Tanding Timnas U-22 VS Myanmar

Para pendukung timnas Indonesia dan Myanmar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Menyukai sepak bola itu mudah. Tapi, tidak dengan sepak bola Indonesia. Rumit. Kebanyakan PHP. Sudah mati-matian pendekatan, ujung-ujungnya ditolak. Sakit, ‘kan?

Saya ingat betul kira-kira saat usia sembilan tahun, teriak-teriak tak karuan kala melihat Tim Nasional (Timnas) Indonesia bertanding. Lewat TV tabung, saya terkesima dengan olah bola Fakhri Husaini, gocekan maut Kurniawan Dwi Yulianto hingga tendangan gledek Bima Sakti.

Namun, untuk ukuran anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar, menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia ternyata menjadi hal yang aneh. Mengapa? Karena keesokan harinya di sekolah, ketika saya bercerita tentang penampilan skuat “Garuda”, tak ada satu pun teman yang bisa memahami jalan pikiran saya.

Mereka tak peduli dengan bahasan yang saya lontarkan. Saya bahkan dianggap punya selera tontonan yang aneh. Mereka Lebih asik membahas Tamiya yang kala itu sedang top-topnya. Sebagian bahkan tak tahu Indonesia punya timnas. Damn!

Semenjak saat itu, saya seperti larut dalam perjalanan Timnas Indonesia. Dari tahun ke tahun, hampir tak ada yang pertandingan timnas di layar kaca yang terlewatkan. Jika tak disiarkan, keesokan harinya saya sibuk mencari berita di koran yang dibeli oleh ayah saya.

Suatu pagi, satu hal yang saya ingat benar sampai detik ini, adalah ketika ayah saya memanggil-manggil saya dengan begitu semangatnya. Saya hampiri, dan dia memberikan koran yang biasa dibelinya.

"Coba lihat halaman depan," ucapnya.

Saya lantas melihat headline dengan Judul “Indonesia Tahan Imbang Kuwait 2-2”. Betapa kagetnya saya.

Bagaimana caranya Timnas Indonesia yang menjadi debutan di Piala Asia 1996 bisa menahan salah satu raksasa Asia kala itu. Bahkan, sempat unggul dua gol lebih dulu lewat satu gol spektakuler Widodo C. Putro.

Foto: Dok. Pribadi

Begitulah. Ketika teman-teman sebaya saya lebih sibuk bicara soal Saint Seiya atau Ksatria Baja Hitam, saya justru lebih tertarik kepada sepak bola, lokal lagi. Sayangnya, passion saya itu seakan terkungkung hanya dalam hati dan pikiran karena tak bisa menemukan teman sebaya yang mampu mengimbangi imajinasi liar saya.

Beranjak ke tingkat SMP dan SMA, bahasan tentang sepak bola berseliweran. Sayangnya, lagi-lagi, saya tak menemukan teman yang paham dengan sepak bola nasional, khususnya timnas. Mereka sangat asik membahas liga-liga luar negeri. Ketika itu, Liga Italia sedang jaya-jayanya.

Saya juga sering menonton Liga Italia, sih. Saya bahkan selalu menulis jadwal pertandingan AS Roma selama satu musim di lembar terakhir pada sejumlah buku pelajaran, lengkap dengan skornya. Tapi, kecintaan saya terhadap timnas tetap tak bisa dibohongi.

Sampai akhirnya saya bisa menuntaskan segala dendam kesumat itu ketika menginjak bangku kuliah. Di situ, dahaga saya seperti terhapuskan.

Ya, saya bertemu dengan orang-orang yang juga menaruh perhatian kepada sepak bola nasional dan timnas. Saya pun sudah tak canggung lagi berbicara passion saya itu. Kami bahkan sering menjadikannya bahan diskusi kecil-kecilan.

Sampai pada titik di mana kami akhirnya sepakat membentuk kelompok suporter timnas. Garuda UNJ Mania, begitu namanya. Dibentuk pada 2007 menjelang Piala Asia di Jakarta. Saya kemudian (berinisiatif) menjadi ketuanya. Tugasnya, mengakomodir teman-teman satu kampus ketika ada pertandingan timnas.

Dan, di sini lah drama dalam kehidupan perkampusan di mulai. Karena saya bertanggungjawab atas tiket-tiket yang di pesan, jadilah saya sering bolos kuliah. Bolak-balik kampus-Stadion GBK untuk memesan tiket.

Saya bahkan berapa kali melewatkan Ujian Tengah Semester (UTS) karena hal ini. Sementara, jumlah kelas yang sudah saya tinggalkan karena pertandingan timnas malah sudah tak terhitung–bahkan hanya untuk menonton di layar kaca.

Teman-teman saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Kalau kuliah saja bisa kalah telak dengan timnas, lantas motivasi hidupnya apa? Kira-kira celetukannya begitu.

Tak hanya persoalan kuliah, masalah percintaan saya juga berada pada titik nadir gara-gara ini. Ketika ada timnas berlaga, HP saya bahkan nyaris tak berhenti berdering karena ada saja yang tanya soal tiket. Saya ladeni satu per satu.

Sedangkan, ketika pertandingan, HP saya matikan. Selama 90 menit saya tak mau diganggu. Siapapun. Sampai lupa saya punya gandengan saat itu.

Perdebatan kemudian selalu muncul di akhir pertandingan. Begitu HP diaktifkan, sms saya seperti menerima kiriman bom. Bertubi-tubi, tanpa jeda.

Dan, bisa ditebak alurnya selanjutnya: ngambek. Sampai pada puncaknya saya diultimatum harus memilih yang mana. Akhirnya saya pilih yang mana? Yang mana aja boleh…

Stefano Lilipaly

Stefano Lilipaly menangis setelah Timnas Indonesia dikalahkan Thailand (Foto: Aditia Noviansyah)

Memang, kecintaan saya terhadap timnas sudah mendarah daging, terkadang irasional. Tapi, saya menikmatinya.

Saya memang anti-mainstream. Ketika orang-orang malu memakai jersey timnas, saya pakai buat kuliah. Hasilnya sudah bisa ditebak, diejek habis-habisan.

Saya bahkan pernah diteriaki “timnas tai” ketika berjalan di kampus. Saking nistanya menjadi pendukung timnas kala itu–yang prestasinya memang sedang ancur-ancuran.

Tapi, begini. Bagi saya, mendukung timnas itu bukan hanya perkara sepak bola. Timnas Indonesia telah menjadi representasi bagi saya untuk mencintai bangsa ini. Ketika segala sendi kehidupan membuat banyak orang antipati terhadap negaranya sendiri, timnas menjadi pelarian untuk merawat nasionalisme dalam jiwa saya.

Bagi saya, jersey Merah-Putih itu bukan sekadar sebuah warna, tapi sudah menjadi identitas. "Aku bicara lewat busanaku," ucap Umberto Eco.

Saking seringya pakai jersey timnas ke kampus, teman-teman pun melabeli saya sebagai suporter timnas paling fanatik di muka bumi. Yes, tentu saja julukan itu tak lebih dari ejekan. Bodo amat.

Namun, semua cerita sendu itu berubah saat memasuki 2010. Piala AFF di Jakarta seakan menjadi titik balik. Penampilan ciamik Irfan Bachdim dan kawan-kawan mampu membuat decak kagum.

Seakan tak ada pembahasan lain kecuali timnas kala itu. Banyak pengamat timnas dadakan. Ngoceh soal timnas dari A sampai Z. Merasa paling tahu dan benar. Ilmu analisis sotoy pun sering kali saya dengar.

Orang-orang kini berlomba-lomba memakai jersey Timnas Indonesia–dalam kesempatan apapun. Tak ada lagi rasa malu. Stadion penuh sesak. Sampai-sampai para pemain dikejar-kejar fans mereka saat selesai latihan. Bahkan, sampai ada menguntit hingga hotel.

Saya sih senyum saja melihat kondisi itu. Senyum nyinyir. Dulu kemana aja, bos?

Tapi, Indonesia kembali gagal di ajang dua tahunan itu. Kalah agregat dari Malaysia di partai final nan kontroversial.

Seperti sudah bisa ditebak, hype turun lagi. Tetapi, tiga tahun berselang, penantian panjang–dengan segala dramanya–terbayar lunas dengan sebuah gelar juara Timnas U-19 di Piala AFF 2013 lalu.

Sesaat setelah Ilhan Udim Armaiyn berhasil mengeksekusi penalti di babak tos-tosan, seketika itu pula pikiran saya melayang jauh ke belakang. Teringat suka-duka mendukung timnas. Memutar ulang memori bagaimana beratnya menjadi suporter sepak bola negeri sendiri.

Dan, dari serangkaian perjalanan dan perjuangan panjang itu pula, mengapa akhirnya saya menamai anak pertama dengan: Garuda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *