Jade Hameister, Penjelajah Kutub Utara dan Selatan Termuda di Dunia

Posted on

Jade Hameister, penakluk polar hat trick

Jade Hameister, penakluk polar hat trick. (Foto: Instagram @jadehameister)

Nama Jade Hameister beberapa tahun belakangan menjadi perbincangan para traveler. Pasalnya, pada April 2016, perempuan muda asal Melbourne, Australia itu ditahbiskan sebagai manusia termuda yang pernah menjelajahi Kutub Utara, gunung es di Greenland, dan Kutub Selatan. Saat itu usianya masih 16 tahun.

Dalam mengarungi suhu menggigit pada trek sejauh total 600 km itu, Jade juga menarik beban seberat 100 kg dengan kereta luncur. Tentu perjalanan itu tak mudah. Dia menjadi perempuan pertama yang membuka rute dari pantai Kutub Selatan menuju Gletser Kansas yang belum terjamah.

Seperti tak pernah puas menaklukkan garangnya temperatur minus, Jade kembali melintasi gunung es di Greenland pada Juni 2017. Ia berhasil menyelesaikan rute penuh rintangan sepanjang 550 km itu tanpa asisten. Jade tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil melakukannya.

“Jangan overprotektif kepada saya, hanya karena saya perempuan,” tutur Jade dalam pidatonya di TEDxMelbourne, dikutip dari National Geographic.

Nama Jade memang telah populer. Ia diundang untuk berbicara di TedxMelbourne, sebuah event nonprofit yang bertujuan berbagi ide dan pengalaman inspiratif dalam pidato singkat. Ekspedisi Jade Hameister bersama National Geographic juga akan difilmkan dan akan rilis pada pertengahan 2018 nanti.

Kerja keras dan kecintaan Jade dalam kegiatan outdoor, terutama di wilayah kutub juga mendapat penghargaan dari Australia, negara asalnya. Pada Oktober 2016, ia menerima predikat prestisius Young Adventurer of The Year dalam Australian Geographic Society. Organisasi itu kemudian membiayai ekspredisi Jade selanjutnya.

Jiwa petualang Jade ternyata ditumbuhkan oleh sang ayah yang juga seorang pendaki gunung berpengalaman. Saat ia masih berusia 6 tahun, Jade sudah mencapai puncak Kosciuszko, gunung tertinggi di Australia, yakni setinggi 2.228 mdpl bersama ayahnya. Saat Jade berusia 12 tahun, ia dan ayahnya berhasil mencapai Everest Base Camp.

“Sebagai seorang perempuan muda, saya tinggal di dunia di mana saya dibombardir dengan nasihat untuk mengkerdilkan ambisi saya untuk memadankan diri, menunggu pangeran mempesona untuk menyelamatkan saya, dan menghindari aktivitas untuk anak laki-laki, karena saya tidak cukup kuat atau tegar,” papar Jade dalam pidatonya di TedX.

Kini, Jade tetap melanjutkan ekspedisinya sambil menyebarkan pesan, bahwa banyak kemungkinan luar biasa yang dapat dilakukan perempuan. Ia juga berupaya menyebarkan kesadaran tentang perubahan iklim bumi dan kutub-kutubnya yang sedang terancam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *