Dampak Konten Kekerasan di Media pada Perilaku Anak

Posted on

Cara Bermain Nintendo Switch.

Memainkan Nintendo Switch secara portabel. (Foto: YouTube Nintendo)

Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa berbagai tayangan yang sarat dengan konten kekerasan di TV, internet, film, atau games dapat membuat anak jadi agresif. Bahasan seputar topik ini pun kerap menjadi diskusi di berbagai kesempatan mulai dari group chat hingga seminar-seminar parenting. Seolah menjadi bukti yang terus menegaskan bahwa perhatian dan usaha kita sebagai orangtua maupun pendidik tidak boleh kendor atau terhenti. Karena nyatanya, ancaman ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu –dan tetap ada bahkan berkembang hingga hari ini.

Seperti dilansir oleh Psycologytoday, dalam salah satu studi paling terkenal tentang topik ini di tahun 1963, seorang ahli psikologi —Bandura, bersama rekan-rekannya menunjukkan kepada anak-anak prasekolah video tentang permainan orang dewasa dengan boneka tiup. Dalam video tersebut, anak-anak menyaksikan saat orang dewasa duduk di atas boneka itu, meninju hidungnya, memukul boneka itu di bagian kepala dengan palu, serta menendang boneka yang sama berulang kali.

Setelah menonton video tersebut, anak-anak dibawa ke ruang bermain dengan boneka dan banyak mainan lainnya. Seperti yang diperkirakan, anak-anak yang menonton video agresif meniru apa-apa yang sebelumnya mereka lihat. Mereka memukuli boneka dengan palu, meninju dan menendangnya dengan agresif. Yang juga mengejutkan, anak-anak itu juga menemukan beberapa cara lain untuk mengalahkan boneka tersebut bahkan juga menjadi lebih agresif saat memainkan mainan lainnya. Dengan kata lain, anak-anak tidak hanya meniru perilaku agresif yang mereka lihat tapi melihat perilaku agresif menyebabkan anak-anak ini bermain lebih agresif secara umum.

Pistol Kertas

Pistol Kertas (Foto: Dok. Wikihow)

Penelitian lain menunjukkan bahwa konten kekerasan yang disaksikan anak juga dapat menjadi sangat bermasalah saat senjata terlibat. Periset dari Ohio State University pada tahun 2017 lalu membawa beberapa orang anak usia 8- sampai 12 tahun ke laboratorium dan menunjukkan kepada mereka cuplikan film box office dalam dua kelompok. Sekelompok anak melihat rekaman film yang sebenarnya, yang berisi karakter menggunakan senjata api, melakukan kekerasan dan sebagainya. Sekelompok anak lainnya melihat versi di mana konten kekerasan dalam film sudah diedit. Semua anak ini kemudian dibawa ke sebuah ruangan besar yang berisi berbagai jenis mainan. Ya, Anda mungkin teah dapat menduga: anak-anak yang menonton film dengan konten kekerasan bermain lebih agresif daripada anak-anak yang menonton film yang konten kekerasannya sudah diedit. Sama dengan penelitian Bandura.

Tapi bukan itu saja; pada penelitian di Ohio ini, ruang bermain juga berisi beberapa lemari di mana pada salah satu lemari tersebut terdapat senapan kaliber 0.38 yang sesungguhnya. Senapan itu tidak diisi peluru dan sudah dimodifikasi sehingga tidak bisa menembakkan peluru. Selain itu, senapan juga dimodifikasi agar dapat melacak berapa kali pemicunya ditarik cukup kencang sehingga —bila pada kondisi normal, dapat melontarkan peluru. Memang. anak-anak tidak diberitahu bahwa ada senapan sungguhan di ruangan itu. Para periset hanya ingin mengetahui apakah anak-anak akan menemukan senapan itu sendiri —dan jika mereka menemukannya, apa yang akan mereka lakukan?

Sekitar 83 persen anak-anak di dalam penelitian menemukan senapan ini. Dari anak-anak yang menemukan senapan, 27 persen langsung memberikannya pada petugas penelitian yang mendampingi tanpa mencoba memainkannya terlebih dahulu. Sementara, sebanyak 42 persen bermain dengan senapan ini dengan berbagai cara.

Yang jelas, hampir tidak ada anak yang menonton film yang sudah diedit yang pernah menarik pelatuknya. Sebaliknya, anak-anak yang menonton film yang berisi cuplikan senjata lebih cenderung menarik pemicu pistol sebenarnya: Rata-rata, mereka menariknya sekitar 2 sampai 3 kali, dan menghabiskan 4 sampai 5 kali lebih lama memegangnya bila dibandingkan dengan anak-anak yang menonton film tanpa tayangan karakter menggunakan senjata.

Yang lebih menakutkan, beberapa dari anak-anak ini menarik pelatuk hingga lebih dari 20 kali. Seorang anak bahkan mengarahkan senapan ke luar jendela pada orang-orang yang berjalan di jalan. Ada juga anak yang menodongkan senapan kepada anak lain dan menarik pelatuknya!

Penelitian ini menunjukkan bahwa konten kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif pada anak-anak, dan perilaku ini bisa sangat berbahaya jika konten kekerasan melibatkan senjata api. Anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar akan senjata, sementara mereka masih sulit memahami perbedaan antara senjata nyata dan mainan —maupun konsekuensi penggunaannya.

Mainan

Ilustrasi mainan (Foto: Pixabay)

Sekarang jelas kan, Moms, bagaimana konten kekerasan bisa menyebabkan perilaku agresif pada anak? Bila setelah melihat cuplikan film beberapa menit saja sudah bisa berdampak seperti itu, bayangkan bagaimana dampak yang dibawa oleh konten-konten kekerasan yang disaksikan anak-anak selama dapat lebih dari 1 jam seperti film di TV, bioskop atau video di Youtube? Bayangkan juga dampak yang mungkin terjadi dari konten kekerasan yang dilihat anak dalam games favorit yang mereka mainkan terus setiap hari.

Implikasi yang jelas dari sini adalah bahwa jika Anda tidak ingin anak Anda bersikap agresif atau kasar, jauhkan segera mereka dari berbagai konten kekerasan mulai hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *