Benarkah Kinerja Ekspor Perikanan Indonesia Ungguli Negara Pesaing?

Posted on

Catatan minor Pemerintah Indonesia dalam menjalankan roda perekonomian di sektor perikanan dan kelautan terlihat dari kinerja ekspor perikanan yang dilakukan sepanjang 2017. Sepanjang tahun tersebut, target ekspor sebesar USD7 miliar yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), gagal tercapai.

Hal itu dikatakan Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan menjelang pergantian tahun 2017 ke 2018 lalu. Menurut dia, kegagalan mencapai target ekspor, menjadi penanda ada kesalahan dalam kinerja perikanan yang dijalankan KKP sebagai instrumen Pemerintah Indonesia.

“Itu menjadi penanda kegagalan dari kepemimpinan KKP sekarang. Penyebabnya, karena pada saat bersamaan, stok ikan di laut Indonesia sedang mengalami peningkatan signifikan setelah pemberantasan praktik illegal, unreported, and unregulated fishing (IUUF) berhasil dilakukan dari 2014,” ucapnya.

Selain pada 2017, kegagalan ekspor juga terjadi sepanjang 2012 hingga 2016. Hal tersebut diakui sendiri oleh Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo di Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Aktivitas pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada awal Desember 2015. Foto : Jay Fajar/Mongabay Indonesia

Menurut dia, pada periode tersebut, memang terjadi penurunan volume ekspor tahunan hingga mencapai 3,23 persen. Namun, penurunan tersebut diakuinya tidak akan memengaruhi nilai ekspor yang sudah ada. Dengan demikian, walau tren tahunan volume ekspor turun, sebaliknya tren tahunan nilai ekspor justru mengalami kenaikan hingga 2,45 persen.

Nilanto menyebut, ada sejumlah faktor yang mengakibatkan terjadinya perbedaan tren tahunan tersebut. Beberapa faktor di antaranya adalah, meningkatnya harga ekspor, produk memiliki nilai tambah, dan produk yang turun volume ekspornya adalah produk dengan harga rendah seperti produk dengan HS 030369, 030389.

“Kode produk tersebut adalah ikan laut lainnya beku yang memiliki harga rata rata sekitar USD0,5 per kg, itu rate pada tahun 2014,” ungkap dia.

Nilanto menambahkan, dibandingkan dengan beberapa negara pesaing seperti Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan Filipina, tren pertumbuhan nilai ekspor dan neraca perdagangan Indonesia meningkat lebih tinggi selama periode 2012-2016. Untuk pertumbuhan nilai ekspor, Indonesia mengalami kenaikan 2,31 persen per tahun dalam periode 2012-2016, dan pertumbuhan neraca perdagangannya naik 2,67 persen per tahun.

Dipaparkan Nilanto, pertumbuhan nilai ekspor Tiongkok naik 2,29 persen per tahun dan neraca perdagangan tumbuh naik hanya 0,60 persen per tahun. Begitu pula dengan Vietnam yang mengalami kenaikan nilai ekspor meski hanya 1,45 persen per tahun. Sementara, untuk neraca perdagangannya, Vietnam mengalami penurunan hingga 15,14 persen per tahun.

“Begitupun dengan Filipina, nilai ekspornya tumbuh naik hanya 0,32 persen dan neraca perdagangannya turun 6,75 persen per tahun,” jelas dia.

Proses pengolahan ikan menjadi produk ikan kaleng di salah satu industri pengalengan ikan di Banyuwangi. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia

Capaian Ekspor 2017

Berkaitan dengan kinerja ekspor produk perikanan sepanjang 2017, Nilanto mengatakan, hingga November 2017 nilainya sudah mencapai USD4,09 miliar dengan volume ekspor mencapai 979.910 ton. Dari sisi nilai, 2017 mengalami kenaikan hingga 8,12 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari-November 2016.

“Peningkatan nilai ekspor disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah kenaikan harga ekspor dan meningkatnya ekspor produk yang memiliki nilai tambah. Karena itu, penurunan volume ekspor tidak berpengaruh pada nilai ekspor,” papar dia.

Untuk penurunan volume ekspor pada produk tertentu, Nilanto menyebut, itu bisa terjadi karena produk tersebut memiliki harga yang rendah. Tetapi, dia menambahkan, pada produk dengan harga tinggi, pada 2017 juga mengalami penurunan volume produksi. Produk-produk tersebut adalah udang, rajungan dan kepiting, cumi, sotong, dan gurita serta rumput laut.

“Dari lima produk unggulan, hanya kelompok tongkol, tuna, dan cakalang (TTC) yang mencatat kenaikan volume ekspor dibandingkan tahun lalu,” sebut dia.

Untuk kinerja impor produk perikanan, pada periode Januari hingga November 2017 mencapai USD433.380 ribu dengan volume mencapai 346.350 ton. Tren tersebut, menurut Nilanto, memperlihatkan persentase kenaikan hingga 14,43 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016.

“Namun hal ini, tidak berpengaruh terhadap nilai neraca perdagangan karena persentase nilai impor hanya 10,31 persen terhadap nilai ekspor,” jelas dia.

Berdasarkan komoditas utama yang diperdagangkan, Nilanto menjelaskan, tren nilai ekspor periode Januari – November 2016-2017 mengalami kenaikan untuk komoditas udang 0,53 persen, tuna-tongkol-cakalang 18,57 persen, rajungan-kepiting 29,46 persen, cumi-sotong-gurita 16,54 persen, rumput laut 23,35 persen, dan lainnya naik 3,61 persen.

Suasana pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman Muara Baru, Jakarta Utara pada November 2016. Foto : Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia


Sementara, berdasarkan negara tujuan ekspor, tren nilai ekspor periode Januari – November 2016 – 2017 mengalami kenaikan ekspor ke Amerika Serikat naik 12,82 persen, Jepang naik 8,31 persen, ASEAN naik 3,42 persen, Tiongkok naik 11,28 persen, dan Uni Eropa naik 9,38 persen.

Selain capaian ekspor dan impor, pada 2017 Direktorat Jenderal PDSPKP menerbitkan Izin Pemasukan Hasil Perikanan (IPHP) sebanyak 677 izin untuk 237 importir. Izin yang diterbitkan itu, peruntukan impor terbesar adalah untuk bahan baku pengalengan dengan realisasi impor sebesar 33.248 ton atau 58 persen realisasi terhadap IPHP terbit.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang memberikan keterangan kepada media di Jakarta, Kamis (11/01/2018), mengakui kalau ekspor Indonesia saat ini mengalami penurunan. Tetapi, dia menambahkan, jika dibandingkan dengan negara lain yang menjadi pesaing, kinerja ekspor Indonesia memperlihatkan lebih baik.

“Jadi, ekspor walaupun turun, tapi dibandingkan dengan negara lain itu juga lebih baik,” tegas dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi mengklaim, adanya kenaikan nilai ekspor berdampak positif pada peningkatan pajak dari sektor perikanan. Kata dia, pendapatan bersih pajak dari sektor perikanan meningkat dari Rp734 miliar pada 2014 menjadi Rp1,082 triliun pada 2017 atau mengalami peningkatan hingga 47,41 persen.


Proyeksi 2018

Kegagalan mencapai target ekspor perikanan pada 2017, membuat KKP berpikir ulang untuk menetapkan target ekspor perikanan pada 2018. Jika sebelumnya KKP sempat menetapkan target 2018 sebesar USD8,53 miliar, namun setelah target 2017 gagal tercapai, target 2018 diturunkan menjadi USD5,4 miliar.

Nilanto Perbowo mengakui, dengan target yang ditetapkan pada 2017, pihaknya sulit untuk mewujudkannya. Meski demikian, dia menyebut kalau nilai ekspor Indonesia pada 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Target nilai ekspor tidak mungkin tercapai dari target yang ditetapkan tahun 2017. Tampaknya kita terlalu optimis dalam dua tahun terakhir. Karenanya kita turunkan target ekspor perikanan untuk tahun depan,” jelas dia.

Pembersihan ikan tuna di PT Harta Samudera Pulau Buru, Maluku, pada akhir Agustus 2017. Perikanan di tempat tersebut mempraktekkan prinsip fair trade dan perikanan berkelanjutan bagi nelayan setempat. Foto : Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Walaupun pada 2017 gagal mencapai target ekspor perikanan, Nilanto sebelumnya pernah meyakini bahwa Indonesia akan menjadi negara eksportir perikanan besar di dunia dan berpotensi menjadi eksportir terbesar di dunia. Optimisme tersebut muncul, karena Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar.

“Namun, agar potensi besar tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik, perlu ada regulasi yang konsisten dan berkelanjutan. Termasuk, di dalamnya adalah regulasi untuk menjaga ikan dari para pencuri. Jika itu sudah dilakukan, kita optimis Indonesia segera menjadi negara perikanan besar di dunia,” sebut dia.

Untuk diketahui, badan pangan dunia PBB (FAO) sebelumnya juga sudah memprediksi negara-negara yang akan menguasai pasar ekspor dunia pada 2024. Tetapi, dari nama-nama yang disebut FAO, tidak terdapat nama Indonesia di dalamnya. Hanya ada nama Tiongkok, Vietnam, Norwegia, Amerika Serikat, Thailand, dan Uni Eropa yang diprediksi menguasai pasar ekspor 2024.

***

12 January 2018

Ditulis oleh M Ambari untuk Mongabay Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *