Anies Sebut Kehidupan Tionghoa Melekat dengan Indonesia

Posted on

Anies Baswedan di HUT ke-19 PMTI.

Anies Baswedan di HUT ke-19 PMTI. (Foto: Nadia Jovita/kumparan)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri peringatan HUT ke-19 dan Munas ke-6 Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Mangga Dua Square, Jakarta Utara. Dalam sambutannya, Anies mengaku ingat betul bagaimana peran masyarakat Tionghoa di Indonesia dari mulai era perjuangan hingga saat ini.

Anies pun berbagi pengalamannya datang ke perayaan Imlek di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, pada saat ia masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu, ia melihat bagaimana aksi Reog bisa berpadu dengan ciamik dengan Barongsai.

Namun Anies menyebut bahwa hal tersebut biasa saja. Sebab menurut dia, keberagaman ini sudah menjadi hal yang lumrah di Tanah Air.

"Mengapa biasa dan tidak luar biasa? Karena di Indonesia sesungguhnya kebhinnekaan adalah hal yang biasa. Bukan hal yang aneh dan hal yang niscaya sangat biasa," kata Anies di Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Kamis (7/12).

Anies mengatakan, warga etnis Tionghoa sudah berkontibusi banyak untuk negara Indonesia sejak lama. Bahkan, jauh sebelum Indonesia resmi menjadi sebuah negara.

Hal tersebut menujukkan bahwa etnis Tionghoa sudah melekat dan menyatu dengan bangsa Indonesia ini dalam sebuah tenun kebangsaan. "Dengan jangka waktu yang begitu panjang, maka kehidupan suku Tionghoa bukanlah noktah-noktah dalam sejarah panjang Nusantara, tapi jadi bagian dari pola yang begitu melekat dan menyatu dalam sebuah istilah yang saya sebut tenun kebangsaan," kata Anies.

Anies pun kemudian bercerita soal kedekatan kakeknya AR Baswedan dengen etnis Tionghoa saat era penjajahan. AR Baswedan merupakan wartawan surat kabar Tionghoa 'Sin Tit Po'.

"Beliau seorang jurnalis, redaktur di koran Sin Tit Po, koran nasionalis yang memuat banyak hal karena ekstrim, berani melawan Belanda," tutur dia.

Anies juga mengungkapkan peran dirinya dalam mendorong John Lie Tjeng Tjoan sebagai pahlawan. John Lie merupakan seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Saat itu, dia masih menjadi rektor Universitas Paramadina.

"Di Jakarta, Budi Utomo, Sumpah Pemuda, BPUPKI bersidang. Tapi yang menarik dalam perjalanan itu Bung Karno menyebut BPUPKI bersepakat menuliskan sebuah piagam yang kita sebut pembukaan UUD 1945. Di situ ada sila ketiga, persatuan Indonesia. Suku dalam bahasa Jawa artinya kaki. Jadi beliau mengatakan bangsa Indonesia punya banyak kaki. Kakinya adalah kaki Jawa, Sunda, Sumatera, Irian, Dayak, Bali, Tionghoa. Ini semua adalah kaki dari sebuah tubuh yang sama, yaitu bangsa Indonesia," ucap Anies.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *