Andi Narogong dan Marliem Patungan Beli Richard Mille untuk Novanto

Posted on

Setya Novanto dan Andi Narogong

Setya Novanto dan Andi Narogong. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A dan Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Jam tangan merek Richard Mille yang pernah dimiliki Ketua DPR Setya Novanto rupanya pemberian dari Andi Agustinus dan Dirut PT Biomorf Lone, Johannes Marliem. Jaksa KPK menyebutkan, keduanya mengumpulkan uang masing-masing senilai Rp 650 juta dan 135 ribu dolar AS.

"Pada 6 November 2015 terdakwa (Andi) memberikan uang ke Johanes Marliem Rp 650 juta sebagai uang patungan untuk membelikan satu jam tangan merek Richard Mille. Setelah itu Johannes Marliem membeli beberapa jam Richard Mille di Beverly Hills Boutique California, yang salah satunya jam tangan merek Richard Mille RM seri 011 seharga 135 ribu dolar AS," ujar jaksa Eva Yustisiana dalam sidang pembacaan tuntutan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (7/12).

Menurut Eva, jam itu diberikan ke Setya Novanto pada akhir November 2015. Pemberian dilakukan sebagai ucapan terima kasih Andi dan Marliem, karena Novanto telah membantu memuluskan anggaran proyek e-KTP.

Kesimpulan jaksa tersebut merupakan fakta persidangan yang diungkap Andi beberapa waktu lalu. Dalam agenda pemeriksaan sebagai terdakwa, Andi membeberkan secara rinci aliran uang dan pemberian jam tangan untuk Setya Novanto.

Sebelumnya, jaksa juga menyebut keterangan Andi sesuai dengan bukti penjualan yang dimiliki FBI. Penjual jam tangan yang ditanyai oleh FBI mengakui ada pembelian jam tangan oleh Marliem di California seharga 135 ribu dolar AS.

"Jadi sebelum saya ditangkap awal 2017, saya ketemu Pak Setya Novanto. Pak Setya Novanto kembalikan, 'ini ribut-ribut e-KTP saya kembalikan'," kata Andi sambil menirukan ucapan Setya Novanto, Kamis (30/11).

Andi lantas menyuruh adiknya, Vidi Gunawan, untuk menjual jam tangan tersebut ke Blok M. Separuh dari uang penjualan itu kemudian diberikan Andi kepada anak buah Marliem.

"Saya suruh Vidi jual ke Tata Watch di Blok M. Saya jual Rp 1 miliar sekian, kemudian Rp 650 juta saya ambil sisanya, saya berikan ke staf Johannes Marliem, Pak Raul kalau tidak salah," kata dia.

Atas perbuatannya, jaksa menuntut Andi dengan hukuman 8 tahun penjara. Dia juga wajib membayar Rp 1 miliar dan denda subsidair 6 bulan kurungan di kasus dugaan korupsi pengadaan proyek pengadaan e-KTP.

Andi juga dikenakan pidana tambahan berupa denda sebesar 2,150 juta dolar AS dan Rp 1,186 miliar. Denda tersebut telah dikurangi oleh uang yang telah dikembalikan Andi sebesar 350 ribu dolar AS.

Jika tidak bisa membayar, harta benda Andi akan disita dan dilelang untuk menutupi hukuman tersebut. Namun jika tetap tak dibayarkan, Andi akan dipidana selama 3 tahun penjara.

Jaksa menilai Andi telah telah mengatur dan mengarahkan untuk memenangkan perusahaan tertentu dalam lelang tender proyek pengadaan e-KTP. Andi melakukan itu bersama Setya Novanto, Sekjen Kemendagri Diah Anggraeni beserta dua pegawai Diah, Irman dan Sugiharto, dan Ketua Tim Tekhis Drajat Wisnu Setiawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *