Analisis: Respons Tepat Zinedine Zidane

Posted on

Zinedine Zidane

Ekspresi Zidane saat memimpin anak asuhnya. (Foto: Sergio Perez / Reuters)

Kenangan buruk Paris Saint-Germain (PSG) di Spanyol terulang. Setelah musim lalu mereka kalah dari Barcelona 1-6, kali ini gantian Real Madrid yang mencukur mereka dengan skor 1-3 dalam leg I babak 16 besar Liga Champions, Kamis (15/2/2018) dini hari WIB.

Dalam laga yang digelar di Santiago Bernabeu tersebut PSG sebenarnya unggul lebih dulu melalui kaki Adrien Rabiot. Sayang, keunggulan tersebut tak bertahan hingga laga berakhir, setelah Madrid mencetak tiga gol melalui Cristiano Ronaldo (45' & 83') dan Marcelo (86').



Pilihan Tepat Emery

PSG sebenarnya memiliki pendekatan yang cukup apik untuk mengantisipasi cara bermain Madrid. Selain menurunkan pola yang sama dengan Madrid, 4-3-3, upaya Unai Emery memainkan trio Adrien Rabiot, Giovani Lo Celso, dan Marco Verratti di lini tengah adalah salah satunya.

Memainkan ketiganya secara bersamaan di lini tengah membuat permainan PSG begitu dinamis. Memainkan ketiganya tidak hanya membuat PSG apik ketika menyerang, tapi juga tangguh saat ditekan oleh lawan.

Selain itu, Emery memutuskan hanya menggunakan Edinson Cavani sebagai penarik perhatian bek lawan. Pada praktiknya, Cavani bertugas untuk mencetak gol, tapi melihat minimnya ia mendapatkan bola, ada peran khusus yang tampak diberikan kepadanya

Tanpa Cavani, serangan PSG difokuskan pada pemain yang menempati dua sisi lapangan. Neymar dan Yuri Berchiche di kiri serta Kylian Mbappe dan Dani Alves di sisi kanan. Kedua sisi tersebut bergantian mengirim umpan dan masuk ke tiang jauh.

Pilihan Emery untuk memaksimalkan kedua sisi lapangan sebenarnya cukup masuk akal. Di sisi kanan, Madrid menurunkan Nacho Fernandez yang notabene bukan seorang bek kanan. Sementara itu, di sisi kiri, Marcelo kerap naik dan melupakan tugasnya untuk bertahan.

Langkah ini membuat PSG memiliki banyak peluang pada awal babak pertama. Hingga pada akhirnya, mereka mampu mencetak gol pertama pada pertandingan ini, memanfaatkan celah yang ditinggalkan dua pemain tersebut.

Bagaimana Zidane Mengubah Keadaan

Ketinggalan satu gol membuat Zinedine Zidane mengubah cara bermain timnya. Madrid yang tadinya menunggu pemain PSG di daerah permainan mereka, coba menekan lebih tinggi dan melakukan penjagaan lebih ketat. Hal tersebut dibarengi dengan upaya mereka untuk bermain lebih agresif ketimbang sebelumnya.

Tekanan Madrid yang lebih masif membuat PSG kerepotan. Masalah PSG semakin besar saat jarak antarpemain begitu jauh. Persoalan tersebut membuat Madrid mulai menguasai jalannya pertandingan dan mengalihkan fokus PSG ke pertahanan.

Di balik berkuasanya Madrid terhadap permainan, mereka tak lepas dari beberapa persoalan. Buruknya penampilan Isco, penjagaan ketat PSG terhadap pergerakan Ronaldo dan Karim Benzema, hingga minimnya kreativitas dari lini tengah membuat Madrid tak mampu berbuat banyak.

Perlahan, Zidane mulai menginstruksikan dua gelandangnya, Luka Modric dan Toni Kroos, untuk masuk ke dalam kotak penalti PSG. Instruksi ini tak salah, Madrid mendapatkan hadiah tendangan penalti, setelah Lo Celso menarik kaus Kroos.

Respons Tepat Zidane pada Babak Kedua


Cristiano Ronaldo

Selebrasi Ronaldo saat merayakan gol kedua. (Foto: Sergio Perez / Reuters)


PSG mengubah pendekatan mereka saat membawa bola. Dalam kondisi tersebut, mereka bermain jauh lebih sabar dibandingkan pada babak pertama. Selain itu, serangan mereka juga difokuskan kepada Neymar, yang tampak bekerja sendirian menginisiasi serangan di sepertiga akhir pertahanan Madrid.

PSG juga bertahan dengan begitu apik. Strategi mereka untuk menutup pergerakan dan arah umpan Modric dan Kroos membuat kedua pemain ini kesulitan. Bagi Zidane, satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan sebagai antisipasi dari permasalahan tersebut hanya memainkan Gareth Bale. Bale dimasukkan pada menit ke-68.

Masuknya Bale membuat serangan Madrid lebih bervariasi dan berbahaya. Melihat tekanan yang semakin bertambah dan tak adanya perlindungan yang cukup kepada pemain belakang PSG, Zidane memutuskan untuk memasukkan dua pemain yang berkarakter menyerang, Lucas Vazquez dan Marco Asensio.

Berbeda dengan masuknya Bale yang dikhususkan untuk menekan sisi kiri PSG, masuknya Vazquez dan Asensio dilakukan sebagai respons atas strategi Emery di sisi kanan. Pilihan Emery untuk memainkan Thomas Meunier di sisi kanan adalah bumerang. Alih-alih menyelamatkan, keberadan Meunier, justru merugikan.

Sejak dimasukkan pada menit ke-66, Meunier tampak tak tahu apa yang harus ia lakukan. Selain berulang kali kebingungan, keberadaan Dani Alves di atas lapangan membuatnya kerap tak berada di area yang seharusnya.

Usai memasukkan Vazquez dan Asensio, serangan Madrid pun berubah. Dari yang awalnya yang tak didominasi oleh satu sisi, masuknya dua pemain tersebut membuat Madrid menekan lewat sisi kanan pertahanan PSG. Sejak dimasukkan pada menit ke-79, total 10 umpan silang dilepaskan oleh dua pemain ini.

Keberadaan tiga pemain ini membuat Madrid mencetak dua gol tambahan: satu melalui bola muntah yang mengenai paha Ronaldo dan satu lagi melalui sepakan Marcelo memanfaatkan umpan silang Asensio.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *