Akademi City dan United: Antara Masa Depan dan Tradisi

Posted on

City Football Academy

City Football Academy (Foto: AFP/Oli Scarff)


Almanak memasuki angka 1998 ketika Manchester United membuat sebuah keputusan yang begitu besar, lagi kontroversial. Pada titik itu, di tahun ke-120 mereka berdiri, Manchester United resmi "berhenti" menjadi klub sepak bola.

Tentu saja, itu semua cuma perkara semiotika semata karena pada praktiknya, United sampai saat ini masih menjadi sebuah klub. Hanya saja, pada 1998 itu, mereka secara banal menghilangkan tulisan "Football Club" dari logo mereka. Dengan kata lain, Manchester United di situ berhenti menjadi klub sepak bola semata dan beralih perusahaan berwujud klub sepak bola.

Urusan penghilangan tulisan "Football Club" itu bernuntut panjang. Tentangan mereka dapat dari para suporter dan hal ini sangat bisa dimaklumi. Masalahnya, sebuah klub sepak bola seharusnya menjadi sesuatu yang tribal dan bisa dirunut asal usulnya dari catatan perjalanan sebuah kota. Ketika itu dihilangkan, maka secara tidak langsung, unsur historis itu pun dengan sendirinya terkebiri.

Sampai pada 2013 lalu, masalah ini masih mengemuka. Kala itu, mantan CEO United, Ed Woodward, mengatakan bahwa dia tidak menyukai adanya penghilangan tulisan "Football Club" itu.



"Aku tidak menyukai perubahan itu. Joel (Glazer, salah satu pemilik United) juga tidak menyukai itu. Kami akan membahas lagi masalah ini nanti karena ini adalah sebuah klub sepak bola, bukan perusahaan," kata Woodward kala itu.

Empat setengah tahun setelah Woodward mengeluarkan pernyataan itu, logo Manchester United belum juga berubah. Di sana, tulisan "Football Club" itu belum kembali dan rasanya, para suporter pun tidak lagi berharap banyak. Mereka sudah menerima bahwasanya kini, Manchester United memang merupakan sebuah entitas bisnis.

Di situ, sekali lagi, yang menjadi korban adalah sejarah klub. Akan tetapi, tentu saja tidak semua aspek historis itu bisa dihapuskan dengan perubahan semiotik di logo mereka. Di balik segala keglamoran era modern yang identik dengan "Iblis Merah", ada sebuah tradisi yang belum hilang, setidaknya sampai detik ini.

Tradisi yang dimaksud adalah bagaimana Manchester United memperlakukan alumni akademinya. Sudah sejak 1937, atau 80 tahun silam, United selalu menampilkan setidaknya satu pemain lulusan akademi di skuat pertandingan liga mereka. Sampai saat laga menghadapi Arsenal, Minggu (3/12/2017) lalu, sudah 3.889 pertandingan mereka lalui dengan memegang teguh tradisi tersebut.

Saat ini, ada empat pemain lulusan akademi United di tim utama. Mereka adalah Jesse Lingard, Marcus Rashford, Scott McTominay, dan Axel Tuanzebe. Di antara mereka, dua di antaranya–Lingard dan Rashford–sudah berstatus sebagai pemain inti dan bahkan, sudah kerap menjadi pahlawan kemenangan United. Lingard, misalnya, adalah salah satu aktor kunci di balik kemenangan "Iblis Merah" atas "Meriam London".


Jesse Lingard

Lingard melakukan selebrasi. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)


Adapun, tradisi ini sendiri bermula ketika pada 30 Oktober 1937. Kala itu, manajer asal Skotlandia, Scott Duncan, menurunkan Tom Manley dan Jackie Wassall dalam pertandingan kontra Fulham.

Sayangnya, United kalah 0-1 pada pertandingan tersebut. Duncan pun, tak lama kemudian, harus mengakhiri rezim lima tahunnya di Old Trafford untuk digantikan oleh Walter Crickmer yang bertahan sampai Sir Matt Busby datang usai Perang Dunia II.

Sejak Manley dan Wassall menjadi pionir, reputasi alumni akademi United tentunya sudah jauh berkembang. Di antara para alumni itu, ada dua grup yang kemudian mencapai status legendaris. Mereka adalah Busby Babes dan Fergie's Fledglings. Masing-masing grup ini, sesuai dengan namanya, merupakan pasukan utama dari Matt Busby dan Alex Ferguson.

Mereka, para Busby Babes dan Fergie's Fledglings, pun bertanggung jawab atas kesuksesan United baik di Inggris maupun di Eropa. Dari kubu Busby Babes ada nama-nama macam Bobby Charlton, Dennis Viollet, Bill Foulkes, Wilf McGuinnes, sampai para korban Tragedi Udara Muenchen seperti Roger Byrne dan Duncan Edwards.

Kemudian, dari Fergie's Fledglings, tentu saja kita mengenal para anggota Class of '92 yang terdiri dari David Beckham, Gary dan Phil Neville, Paul Scholes, Ryan Giggs, dan Nicky Butt. Walau begitu, Fergie's Fledglings ini tidak cuma mereka saja.


Eric Harrison

Harrison (kiri) bersama Class of '92. (Foto: AFP/Lindsey Parnaby)


Sejak era 1980-an pun sudah bercokol nama-nama Fergie's Fledglings seperti Clayton Blackmore dan Lee Martin. Lalu, pada era 2000-an pun ada sosok Darren Fletcher dan John O'Shea yang sempat menjunjung tinggi panji-panji "Iblis Merah". Sampai akhirnya, setelah Fergie's Fledglings terakhir angkat kaki, sampailah United ke generasi Lingard dan Rashford.

Bagi institusi seperti Manchester United, keberadaan para alumni akademi ini jelas menjadi identitas yang patut dibanggakan. Masalahnya, capaian mereka ini hanya bisa "ditandingi" oleh Everton yang para alumni akademinya baru memperkuat tim utama di lebih dari 1.000 pertandingan. Setidaknya, meski United sudah tidak se-tribal dulu, para suporter (lokalnya) tetap punya pegangan terhadap akar sejarah klub.

Nah, bicara soal akademi ini, tetangga United, Manchester City, tidak punya reputasi yang sama. Terlebih sejak kedatangan Syekh Mansour sebagai patron klub, City lebih identik dengan pemain-pemain bintang yang mereka beli dari klub lain. Akan tetapi, dalam perjalanan ke depannya, United patut waspada. Masalahnya, saat ini City sendiri tengah berada dalam perjalanan untuk menciptakan tradisi macam itu.

Pada pertandingan Liga Champions matchday keenam menghadapi Shakhtar Donetsk, Kamis (7/12) dini hari WIB, ada nama Tosin Adarabioyo dan Phil Foden di skuat City. Kedua nama ini sendiri merupakan jebolan akademi mereka. Adarabioyo sudah dalam dua musim terakhir sesekali diturunkan sebagai pemain inti di tim utama City, sementara Foden adalah salah satu bakat terbesar Inggris saat ini.

Untuk memiliki rekam jejak seperti United, City tentunya butuh waktu puluhan tahun. Namun, ini adalah awalan yang bagus bagi mereka, apalagi setelah pada era Syekh Mansour ini perhatian kepada akademi pun sebetulnya meningkat drastis. Bahkan, skuat U-21 mereka pun kini diberi nama menterang: Elite Development Squad.


Phil Foden

Foden (kiri) beraksi saat melawan Shakhtar. (Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko)


Dalam sejarahnya, City sebenarnya sudah pernah menelurkan bakat-bakat unggul seperti Joey Barton, Shaun Wright-Phillips, Nedum Onuoha, Micah Richards, sampai Stephen Ireland. Hanya saja, Foden, Adarabioyo, dan rekan-rekan seangkatannya ini tampaknya berada pada level berbeda. Pasalnya, jika Barton cs. mendapat kesempatan saat City masih semenjana, Foden cs. berhasil mencuri perhatian manajer sekelas Pep Guardiola.

Selain Foden dan Adarabioyo, ada satu nama lagi yang sebenarnya sudah lebih dulu mencuat. Dia adalah Kelechi Iheanacho yang sayangnya justru dilego ke Leicester City. Selain itu, ada pula Jadon Sancho yang secara mengejutkan memilih untuk bergabung bersama Borussia Dortmund. Kedua pemain tersebut meninggalkan City pada bursa transfer musim panas lalu.

Saat ini, akademi City sendiri ditangani oleh Lee Carsley yang dulunya merupakan gelandang bertahan andalan Everton. Carsley pun baru bergabung pada musim panas lalu menggantikan eks-gelandang internasional Inggris, Jason Wilcox. Bersama Wilcox yang kini menjadi direktur akademi, akademi City berhasil menjuarai juara Northern Division kompetisi U-18 selama dua musim berturut-turut, 2015/16 dan 2016/17. Artinya, para pemain-pemain yang dikembangkan City ini memang bukan pemain-pemain sembarangan.

Walau begitu, pertanyaan mengenai sampai di mana nantinya para alumni akademi City ini akan berkiprah, itu adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Potensi untuk itu jelas ada dan kini, semuanya tinggal dikembalikan kepada City. Setelah semua ini, merek sebetulnya mau jadi klub yang seperti apa?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *